 |
| Gunung Cikuray dari google maps |
Gunung Cikuray merupakan gunung tertinggi dengan
ketinggian 2821 mdpl di Garut yang dekat dengan Gunung Guntur dan Gunung
Galunggung. Rombongan saya terdiri dari 13 orang, kami berangkat tanggal 21
Januari 2017 dari Bandung sekitar pukul 3 dini hari dan sampai disemacam
pintu masuk menuju gunung Cikuray, Garut pukul 6 pagi. Disana kami dimintai
biaya 5rb/orang, entah untuk apa mungkin semacam pungli L. Dari tempat
tersebut, kami akan menuju stasiun pemancar menaiki mobil pribadi yang sengaja
kami bawa untuk menekan biaya. Sayangnya, 1 dari 2 mobil yang kami bawa tidak
kuat untuk menanjaki medan yang luarbiasa untuk mobil yang biasa melewati aspal
dan jalanan rata sehingga beberapa dari kami, membayar sebesar 20ribu/orang
untuk diangkut ke stasiun pemancar sedangkan sisanya naik mobil yang satu lagi.
Sebelum kami sampai di stasiun pemancar, kami dikenakan biaya 10rb/orang untuk
agrowisata atau entah apa lah itu dan saat ditanya apakah diatas perlu membayar
lagi si bapak menjawab tidak usah, sedangkan biaya parkir mobil sekitar 25ribu.
 |
| Perjalanan menuju stasiun pemancar (foto oleh Faradis) |
Setelah sampai di stasiun pemancar yang merupakan
tempat stasiun pemancar TV swasta dan TVRI, kami beres-beres sekadar menyiapkan
diri untuk mulai mendaki yang sesungguhnya. Kami memuas-muaskan diri memakai
toilet untuk cuci muka, sikat gigi, dan lain-lain berhubung ke atas gunung
sudah tidak ada mata air lagi (di pos bayangan 6 gunung cikuray nanti ada wc
tetapi tidak ada airnya). Total pos yang kami naiki untuk mencapai puncak
gunung Cikuray adalah 7 pos, dimana kami membangun tenda di pos 6 karena masih
banyak pohon dan angin tidak bertiup sekencang di pos 7 yang merupakan dekat
puncak (tidak begitu kelihatan jelas tanda pos 6 dan pos 7). |
 |
| Perjalanan menuju pos 1 yang merupakan area perkebunan teh (foto oleh Andi) |
 |
| Sampai juga di pos 1 (foto oleh Faradis) |
Kami
memulai pendakian dari pos 1 yang disana kami memberikan data diri dan kembali
dikenakan biaya 15ribu/orang, berlawanan dengan pernyataan si bapak di bawah
yang kami tidak mengerti ini kenapa L. Kami berangkat
dari pos 1 sekitar pukul 11 siang dan tiba di pos 6 untuk mendirikan
tenda sekita pukul 5 sore. Semenjak pos bayangan 6, sudah terlhat beberapa
pendaki mendirikan tenda. Sebelum sampai di tempat kami berkemah di pos 6, kami
bertemu dengan seorang bapak yang kira-kira berumur 40-50an, pergi sendirian
tektok (pulang pergi) mendaki gunung Cikuray. Saya sangat senang selama
perjalanan meski melelahkan, menyapa pendaki lain termasuk hal yang sudah
menjadi tradisi pecinta alam ketika mendaki. Selesai mendirikan tenda dan
membuat susu hangat, kami masuk ke tenda untuk menghangatkan diri dari cuaca
yang sangat dingin di luar (sekitar 70°F atau 21°C disertai angin kencang).
Kami baru mulai makan malam pukul 10 setelah berisitirahat kelelahan dan
menahan dingin. Sebelumnya datang pendaki lain yang meminta menukar gas dengan
makanan, kebetulan kami memang kebanyakan membawa bekal dan kekurangan gas.
Hari itu banyak pendaki yang berada di gunung Cikuray, tenda kami cukup
berdekatan dengan tenda pendaki lainnya. Selesai makan bersama di tenda besar,
kami kembali ke tenda masing-masing (ada tiga tenda) dan melanjutkan tidur.
 |
| Perjalanan menuju pos 2, belum memasuki kawasan hutan (foto oleh Faradis) |
 |
| Ironi banyaknya tumpukan sampah (foto oleh Faradis) |
 |
| Jalur menuju pos-pos didominasi akar-akar pepohonan (foto oleh Faradis) |
Esok
harinya tanggal 22 Januari 2017 pukul 4 dini hari, kami yang perempuan memasak
di dalam tenda untuk menghindari angin kencang di luar yang memperlambat lama
makanan kami untuk matangL (berasa
jadi ibu-ibu yang masakin sarapan untuk anaknya sekolah). Lalu kami
membangunkan squad cowok-cowok yang lagi berlindung di dalam tenda menahan dingin.
Dekatnya tenda kami dengan tenda pendaki lain membuat sekali teriakan kami dari
dalam tenda mengundang sahut-sahutan dari pendaki lain, “sahuuuur… sahuuuur”.
Selesai mengisi perut di pagi hari di dalam tenda besar (lagi), kami menuju ke
puncak yang hanya sekitar 30 menit dari tempat kami berkemah.
 |
| Makanan kami selama berkemah |
Pemandangan dari atas puncak gunung Cikuray
sangat luar biasa, dari atas sana kami bisa melihat Gunung Ciremay, Gunung
Guntur, dan Gunung Galunggung. Lautan awan dan daerah lereng gunung terhampar
begitu saja memanjakan mata kami. Hanya syukurlah yang dapat saya ucapkan hari
itu atas kesempatan yang bisa saya dapatkan saat itu. Pada puncak gunung
tersebut juga terdapat sebuah rumah kecil yang banyak coretan, tetapi pada saat
itu kami melihat ada komunitas pendaki yang mengecat ulang rumah tersebut
sehingga lebih sedap dipandang.
 |
| Indahnya pemandangan dari sini (foto oleh astrid) |
 |
| Panorama dari puncak Gunung Cikuray (foto oleh astrid) |
 |
| komunitas pendaki yang merapihkan rumah di puncak |
 |
| Foto bersama rombongan kami di puncak cikuray |
Perjalanan pulang kami berlangsung cepat, hanya
sekitar satu jam dari pos 6 menuju pos 4 (pada saat naik bisa 2 sampai 3 jam).
Saat mulai turun menuju pos 2, kabut mulai memenuhi sekeliling kami. Meski sebelum-sebelumnya perjalanan kami juga
sering ditemani kabut, kabut yang satu ini tidak sendirian. Hujan selanjutnya dating
dan kami berteduh sebentar menggunakan flysheet, karena hujan tak kunjung reda
kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Perjalanan pulang kami cukup lama
disebabkan tanah yang sangat licin. Beberapa dari kami berulang kali terpleset.
Sampai terakhir di perkebunan teh yang hanya berupa tanah licin, dua orang dari
rombongan kami sangat kesulitan berjalan karena hanya memakai sepatu basket dan
running shoes. Akhirnya kami tiba di
bawah pada saat maghrib. Kami beres-beres dan berbenah sampai setelah isya
melanjutkan perjalanan untuk mengisi perut yang sudah sangat kelaparan. Malam
itu rombongan Bekasi dan rombongan Bandung berpisah setelah makan malam di
pinggir jalan pada suatu daerah di Garut. Terimakasih teman-teman atas perjalanan dan
kerjasamanya^^
 |
| Rombongan (depan ke belakang, kiri-kanan): acid, dika, ajis, wiwid, bejo, fernanda, atun, andi, faradis, gde, vina, adam, angger |
 |
| kabut saat perjalanan pulang |
 |
| sinar mentari di sela-sela pepohonan |
Pembukaan yang sengaja di taruh di bawah
Semua bermula dari keinginan saya setelah membaca beberapa novel untuk berada dan berpetualang di alam semenjak zaman sekolah menengah, yang sayangnya belum pernah tersampaikan akibat izin orangtua yang susah didapat. Kalo kata orangtua dan kakek nenek saya, "nanti kalau udah kuliah baru boleh". Alhasil, saya selalu tidak sabar menanti-nanti masa kuliah. Namun, di kuliah saya tidak langsung bergabung di semacam pecinta alam atau apapun itu mengingat kakak saya mewanti-wanti lingkungan pecinta alam yang dia anggap kurang baik untuk anak rumahan macam saya, padahal tidak begitu juga ya tapi akhirnya saya ikuti saja.
Saya kuliah di Bogor (IPB) Dramaga yang notabene dipenuhi kawasan hutan, hingga membuat saya senang tinggal disana karena banyaknya hal-hal yang tidak bisa saya temukan di rumah. Ditambah lagi tempat saya latihan memanah merupakan tempat yang asri, membuat saya semakin betah menetap di Bogor. Keinginan saya untuk naik gunung dan berkelana sempat terkikis seiring kesibukan kuliah dan organisasi. Sampai kemudian teman sehobi saya di ukm panahan, Dinal, sesekali mengajak camping di tenjolaya ditambah perkataan dosen mengenai keseruan menjelajahi tempat-tempat baru semasa ia kuliah membuat saya menjadi termotivasi kembali.
Akhir perkuliahan di semester 5 ini saya mendapat kabar baik dari seorang teman--bisa dibilang teman terbaik saya--Adam, mengenai ajakan mendaki Gunung Cikuray bersamat eman-teman sejurusannya yang juga membawa teman-temannya yang lain, sehingga saya ditawari ikut. Berbekal pinjam sana-sini dan ‘rada keukeuh’ pasti pergi, maka saya siap juga untuk berangkat ke Cikuray (barang dan perbekalan siap, fisik insyaallah sehat, izin orangtua dan kakek sudah dikantongi).
Komentar
Posting Komentar