Berkunjung ke Lubang Buaya
Aku, baru saja sampai di rumah. Dan entah kenapa, aku ingin menulis pengalamankusekalisaat ini sebelum lupa. Ya, hari ini aku dan teman-temanku berkunjung ke monumen pancasila. Tujuan kami yang tak lain adalah mengenang dan mempelajari sejarah menyeramkan, peristiwa G30S/PKI. Kami (aku, Nanda Ismi Kumalawati, Tasya Aulia Maghfira, dan Sri Gandari Putri) berencana berangkat pukul 9. Tapi ya, ngaret juga pada akhirnya. Kuperkenalkan dulu deh, yang pakai baju warna cokelat di sebelah kiri itu Tasya, berikutnya Riri, dan yang pakai baju biru itu Nanda. Mereka teman SMPku (lihat gambar). Lanjut ya, kami pun tiba di tempat tujuan sekitar pukul setengah 11. Begitu sampai di gerbang, aku tertegun. Kata Ummi (Tasya Aulia Maghfira, ya seperti itulah aku memanggilnya), kita masih harus jalan jauh juga untuk sampai ke museum pengkhianat PKI. Ya, semua itu berlalu tanpa terasa. Terhabiskan oleh canda tawa yang enggan terhenti terlontar dari mulut kami,seperti anak muda lainnya.
Begitu sampai disana, terjadi sedikit perdebatan, Nanda dan Ummi yang sudah pernah kesana sebelumnya berbeda pikiran. Nanda mengajak untuk pergi ke Lubang Buaya terlebih dahulu. Sedangkan Ummi maunya ke Museum Pengkhianatan dulu. Memang tidak terjadi perdebatan, tapi sebagai pihak yang tidak tahhu apa-apa aku bingung menentukan. Akhirnya Ummi pun berkata agak pasrah: "Ya udah deh, ke situ aja. Sekarang terbalik, kalo dulu aku dari museum duluan sekarang ke lubang buaya dulu". Lalu kami pun menuju ke sebuah pos, disana salah satu bagian karrcis yang kami beli di gerbang depan tadi dirobek. Aku tercengang lagi, mendapati hamparan rumput hijau luas yang rasanya sangat empuk untuk diinjak, wk. Ya, aku sangaaaaaat ingin berlarian disana. hehehe, tapi niat itu mesti ditahan dulu karena tujuan penting adalah menengok lokasi penguburan pahlawan-pahlawan korban kesadisan PKI. Disana kita melihat dioprama (kalo gak salah tulisannya begitu) kejadiaan saat 7 pahlawan itu hendak dieksekusi. Baru melihat patung tiruannya yang bersimbah darah saja sudah membuatku tak ingin melihatnya dan memeilih untuk kabur ke rumah sebelah. Dan, begitu aku balik ke tempat dioprama itu Ummi sempat memarahiku karena pergi gak bilang-bilang, padahal dicariin, begitu pula dengan Riri. Sedang Nanda, ia tampak bungkam seperti biasanya. Aku menyeret-nyeret Ummi dan mengajak yang lainnya untuk memasuki rumah sebelah yang tidak terlihat angker itu. Kupikir itu lebih baik daripada melihat darah bohongan pada tubuh patung-patung yang tampak mengerang kesakitan itu. Kami memasukinya dengan sedikit antusias, ya belajar sejarah sedikit walau cuma melihat sisa-sisa sejarah. disana, aku dan ummi sempat bandel memegang dan mengangkat genteng asli ketiga bangunan/rumah yang berbaris rapih di suatu sudut. Riri memarahi kami dengan khawatir. Dan Nanda, ia memilih bungkam dan melihat jalan. Saat kami hendak menuju ke patung-patung 7 pahlawan yang menjadi korban di sumur itu, angin berhembus pelan lama-lama kencang, sampai akhirnya hujan turun sedikit. Aku masih nakal hendak menuju ke patung besar itu, namun kuurungkan karena hujan turun makin deras. Kami pun memilih berteduh di dekat sumur tempat dilemparkannya pahlawan-pahlawan kita dulu seperti para pengunjung yang lainnya. Kami mengamati sumur itu. Aku berkata agak kesal pada ummi:
"Mi, kok gak ada bau darahnya sih?",
"ya, gak tau cid",
"Tapi katanya siapa gitu ada -_____-" (ekspresi kesal dan kecewa),
"Ya mungkin ini kecampur bau ujan cid" (memandangku dengan wajah tidak kalah kesalnya karena pertanyaan konyolku itu).
Sempat tercetus ide untuk memakan bekal yang kami bawa masing-masing. Tapi mengingat adanya sumur itu di dekat kami, kami pun mengurungkan niat tersebut. Lalu Nanda mengusulkan untuk memakan bekal (mengingat hari sudah siang) di kafetaria yang dia sempat lihat didekat Museum Pengkhianatan PKI. Namun, hanya aku yang membawa payung (payung lipet pula, kecil kan?). Kami semua terdiam, hingga tiba-tiba tercetus ide untuk ganti-gantian. Jadi 2 orang. satu tunggu di museum, satu lagi balik menjemput yang lain hingga seterusnya. Aku ngotot sebagai sang pengantar (biasa, anak kampung maunya main ujan-ujanan). Aku pun mengantar Nanda ke Museum terlebih dahulu, angin bertiup kencang sekali. Alhasil, baju kami basah kuyup juga di beberapa bagian. Lalu aku balik lagi seorang diri. Payung sempat terbang (saking kencengnya tuh angin, untung bisa diambil lagi. diketawain Nanda, duh malu). Balik lagi sendirian cukup menyenangkan, dibawah payung aku bersenandung ria. Suaraku tertutup oleh hujan. Hingga sampai lagi, aku ngotot menunggu saja sendirian di dekat sumur itu (emang dasar keras kepala). Ummi dan Riri (Sri Gandari Putri) pun dengan mesranya jalan berdua menuju ke museum itu. Ya, aku menunggu sendirian lagi. Asek >,< (?)
Lalu, aku berpikir sebentar, udah nyampe sini mah doa aja kali ya. Aku pun berdoa dengan khidmat (eaea), aku hanya membaca surat alfatihah dan ayat kursi (emang apalagi ya?) dan jua doa-doa bahasa indonesiaku untuk sang pejuang. Melihat bacaan dekat sumur yang berisi: Tjita perdjuangan kami untuk menegakkan kemurnian pantjasila tidak mungkin dipatahkan hanja dengan mengubur kami dalam sumur ini. Aku sedikit terharu dan hendak menangis. Ummi tiba-tiba datang, melihatku begitu seperti sehabis membaca doa, ia pun juga hendak membacakan doa. Maka kami bersama-sama membaca doa untuk para pahlawan itu. Saat itu hujan turun tidak seganas tadi, angin pun bertiup semilir. Kami berjalan dengan sedikit melontarkan lelucon. Akhirnya kami sampai, Riri dan Nanda sudah asyik mengobrol dan duduk disana. Kami menumpang makan disalah satu kios yang kursinya basah karena angin hujan. Untung ibu kantin itu berbaik hati menyediakan dus untuk alas kursi itu. Kami pun makan sambil kedinginan. Aku dan Ummi selesai makan hampir berbarengan. Nanda menutup kotak makannya yang masih sisa setengah, kenyang katanya. Sedang Riri, ia ikut-ikutan. Entah apa alasannya. Sesudah itu Nanda mengatakan niatnya untuk membeli es krim. Sontak kami semua kaget, saling menyarankan untuk tidak usah di hawa yang sedingin ini. akhirnya ia membeli buku panduan museum seharga lima ribu rupiah (cuma nanda yang beli, yang lain pada males haha).
Kami pun masuk ke dalam museum, brrr... kami kedinginan apalagi di museum ini AC juga nyala. Disana kami sibuk membaca dan memperhatikan kejadian demi kejadian mengenaskan. Hingga akhirnya aku agak ogah-ogahan (yang lain juga mungkin begitu) karena merasa sangat kedinginan. Badan terasa beku. Memandang potret sejarah selesai, kami keluar ruangan dan hujan masih deras. Setidaknya begitu tiba diluar, suhu tidak sebegitu dingin didalam. Kami turun, kakiku sudah sangat lemas dan pegal. Jadi ga enak sama yang lainnya. Kami meneruskan perjalanan, mengikuti plang PAKAIAN DAN SISA DARAH eaks mengerikan banget. Kami meneruskan wisata potret, lalu melihat ke pakaian yang menjadi koleksi museum itu (tentunya pakaian korban) ya dan tampaknya aku malas untuk menceritakan bagian ini. semua tampak mengerikan, aku memilih tidak membaca hasil visum dari pahlawan-pahlawan yang ditemukan dari dalam sumur itu. (oh iya, Ummi kayaknya agak naksir sama Almarhum Lettu Pierre, kalo gak salah namnya begitu. salah satu dari 7 pahlawan itu, abis setiap ketemu foto sang pahlawan, selalu tersenyum sambil bilang 'cakep cakep' wakakak). Disana kami juga melihat tentang ade irma, anaknya pak nasution yang menjadi perisai bagi beliau (pak nasution jadi ga ikut korban deh, kenyataan melegakan sekaligus mengiris hati). Kurang tau deh, ceritanya.
Disana ada koleksi, buku gambar ade irma, tulisan tangan ade irma yang di buku begini: Ade manis sekali Ade yang menulis dengan huruf sambung. Aku hanya tertawa getir, hendak menangis. Ya selanjutnya kami melewati ruang video/theater. disana ada ibu-ibu yang menyuruh rombongannya dan bilang masuk aja, masuk gak apa kok. Ya udah kami pikir ini gratis, kata Nanda juga jarang diputer ya udah kami masuk. Disana kami menyaksikan adegan demi adegan yang tadinya hanya berbentung gambar dan replika saja di sisi lain museum. Dan, begitu kami keluar, ternyata ada ibu-ibu juga yang bayar ke seorang bapak yang duduk di kursi dekat pintu. Kontak aku kaget dan bilang ke teman lain saat jalan ke mushola untuk sholat. Ya, rejekilah. Lahian waktu tadi kita masuk ada bapak-bapak itu gak dimintain kok, wk. Selesai sholat, dengan hanya gerimis, kami memutuskan untuk ke Pondok Gede, tujuan: Toko Buku. dan disana, riri seperti biasanya memburu bukui-buku astronomi. aku memburu novel lima sekawan, dan Nanda tadinya mau buku panduan power point tapi ga jadi atas saranku, dia beli buku.... apa ya? lupa wk.
Ummi pun dengan rajinnya membeli alat tulisnya yang ilang (beh). Selesai dari toko buku, kami menuju tempat makan. Lapeeerrr... wakak. Ya dan seperti biasa banyak obrolan seru. Dan setelah itu kami pulang (sumpah, singkat banget nih ceritanya). Dalam keadaan baju masih basah dikit aku pulang sendiri T,T (oke ga penting), Nanda juga sendiri. Sedang Ummi dan Riri berbarengan. Ya kami pulang dengan senang. :)) Banyak loh kejadian seru yang gak diceritakan. Otak agak tumpul sih, wahahah. Terimakasih teman-temanku. Mengingat perjuangan para pahlawan. Sampai detik ini, kejadian mengenaskan seperti dulu jangan sampai terjadi. Amiin!!! Mari pertahankan kemurnia pancasila! Hidup Indonesiaku :D
Komentar
Posting Komentar