Cerpen;Jaka dan Kucingnya

Pada tanggal 23 Mei 2010 ini saya juga mencoba menulis dongeng.
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang gadis desa yang cantik jelita bernama Siti. Ia sangat ramah kepada semua penduduk desa hingga banyak pria yang jatuh hati kepadanya. Namun, semua pinangan yang diterima gadis cantik ini selalu ditolak sehingga membuat banyak pria juga yang kecewa. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Suatu hari, seorang pengembara datang ke desa itu untuk beristirahat. Saat ia sedang meminum air di sungai, tak sengaja ia terjatuh dan hanyut terbawa arus. Siti yang melihat seorang pria tengah bersusah payah berenang melawan arus, mencoba menolong. Ia mengambil tali dan melemparkannya ke pria itu dari tepian. Untungnya, tali itu tertangkap. Pria itu mencoba memegang erat. Mulanya, Siti tak bisa menahan tali itu sampai ia memutuskan untuk mengikat tali tersebut ke sebuah pohon besar. Saat itu memang sepi, sehingga tak ada yang bisa dimintai tolong. Pria itu tetap bersikukuh dengan tali, mencoba agar selamat. Dan akhirnya, pria itu berhasil menginjakkan kaki ke tepian. Siti tersenyum saat pria itu mengucapkan kata terimakasih dan langsung melenggang pergi. Pria yang langsung jatuh hati itu teriam, merenung. Ia yang sudah kehilangan jejak Siti itu, memutuskan untuk tinggal sementara di desa.
Ia mencari informasi tentang Siti hingga akhirnya menemukan alamat Siti. Pengembara dengan semangat menemui Siti di rumahnya. Dan langsung melamar. Siti yang kaget, langsung berkata “Maaf, aku tak bisa!”. “Tapi kenapa?”, pengembara itu agak jengkel karenanya. Siti bingung harus berkata apa. Ia tak mungkin bilang bahwa ia tak menyukai sang pengembara, karena takut menyakiti hatinya. Pengembara itu terus meminta alasan Siti, terus menerus mendesaknya. Hingga akhirnya, Siti mengajukan satu syarat, “Kakanda, jika kau bisa, bawakanlah hati kijang yang sedang diincar harimau. Datanglah kembali kesini dengan bukti yang meyakinkan”. Mendengar persyaratan Siti yang agak sulit, Pengembara bernama Jaka itu tak menyerah. Ia mengiyakan dan langsung beranjak bingung dengan seribu pertanyaan yang berkelabat di otaknya. Pengembara itu pun memutuskan untuk meninggalkan desa dan memperdalam ilmunya demi merebut kijang yang sedang diincar oleh harimau.
Pengembara itu terus pindah dari satu desa ke desa lainnya, ia berguru pada banyak orang sakti. Hingga akhirnya setelah dua tahun lamanya, Jaka pun kembali ke desa itu dengan penuh harapan. Jaka yang datang ke desa itu sempat lega mengetahui Siti masih melajang. Dengan semangat, Jaka berlari ke hutan. Ia butuh waktu berhari-hari untuk menemui Kijang yang sedang diburu harimau. Hingga akhirnya, saat sedang menyantap daging kelinci, terdengarlah auman harimau. Dengan segera, Jaka mencari sumber suara. Dilihatnya seekor harimau sedang memburu Kijang. Dengan gesit, harimau itu siap menerkam Kijang dan dengan cepat pula, Jaka menghalangi harimau itu. Merebut buruannya yang sudah ada di depan mata. Kijang itu tampak ketakutan, diam ditempat. Jaka pun bergulat dengan pantang menyerah walau terluka di beberapa bagian karena tercakar harimau. Dan karena ilmunya yang sudah semakin sakti, Jaka memenangkan pertandingan. Harimau itu pergi, Kijang pun tampak berterimakasih. Namun sayangnya, Kijang bodoh itu langsung dibunuh dan diambil hatinya. Jaka pun keluar dari hutan dengan semangat. Ia menyusuri jalan setapak dengan senyum yang mengembang tiada henti menuju rumah Siti.
Siti sangat kaget begitu mendapati Jaka telah datang dengan membawa hati yang ia minta. Jaka juga telah menunjukkan bekas cakaran harimau pada Siti yang tak bisa dielakkan lagi. Namun Siti tetap menolak dengan alasan bahwa Jaka sudah terlambat. Siti telah jatuh cinta pada pemuda lai. Jaka kaget bukan main, ia menanyakan siapa pemuda beruntung itu. Siti bingung, ia tak bisa menjawab karena itu memang hanyalah sebuah bualan belaka. Tiba-tiba melintaslah seekor kucing kecil yang mengeong agak keras. Jaka yang saat itu penuh amarah karena Siti tak kunjung menjawab, dengan kesaktian yang ia punya, langsung mengutuk Siti, “Menikahlah engkau dengan kucing dambaan hatimu itu!”. Tiba-tiba, badan Siti menyusut. Ia berubah menjadi seekor kucing manis yang lucu. Jaka pergi meninggalkan Siti dengan amarahnya.
Sedangkan Siti, ia menatap iba akan kepergian Jaka. Kucing jantan yang mengeong tadi menghampiri Siti, “Maaf” kata kucing itu pelan. “Tak apa, ini salahku juga yang dari awal tak menolaknya”.Siti termenung diam, tak menyangka dirinya berubah menjadi kucing kecil. Siti pun memutuskan untuk meninggalkan rumahnya. Walau ia ingin sekali meninggalkan pesan karena kebetulan kedua orangtuanya sedang bertani di sawah, namun ia tak bisa menulis lagi dalam wujud seekor kucing. Maka, ia pun meninggalkan rumah bersama kucing jantan itu dengan sedih. Kedua orangtuanya pasti sangat khawatir.
Siti pun menjalani kehidupannya sebagai kucing, ia berteman dengan banyak kucing lainnya. Suatu hari, Siti mendapat kabar bahwa ibunya meninggal karena kepergiannya tanpa kabar. Siti tak bisa membendung kesedihannya, ia menangis setiap hari. Mengetahui keadaan Siti yang terus terpuruk, kucing Jantan bersama kucing lain memutuskan untuk mencari Jaka yang telah mengutuk Siti. Mereka mengembara, berharap menemukan Jaka walau hanya dengan informasi yang sangat sedikit.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya mereka menemukan Jaka. Kucing Jantan pun mengejar Jaka yang sedang berjalan dan terus menerus mengeong kepada Jaka. Jaka memberhentikan langkahnya, ia termenung memandangi kucing itu.Tiba-tiba ia tersadar, kucing itu adalah kucing yang waktu itu ditemuinya di rumah Siti. Jaka menghampiri kucing itu pelan. “Ada apa, kucing? Bagaimana keadaan gadis itu?”. “Meeoonggg.... Meeooonngggg....”. Jaka tidak bisa bahasa kucing, ia hanya menggaruk kepala kebingungan. Lalu, datanglah kucing-kucing lain menyusul. Mereka mengeong keras. Hingga setelah itu Jaka menyentuh kepala kucing jantan. Kucing jantan itu mengerang begitu kencang, dan tiba-tiba tubuhnya langsung roboh. Teman-teman kucingnya yang lain mengeong mempersalahkan Jaka, yang seolah telah membunuh teman mereka. Jaka pun juga bingung karena ia hanya menyentuh kepala kucing itu. Namun, tiba-tiba kucing jantan itu berdiri lagi. Kucing-kucing lain menatap dengan senang becampur heran. “Nah, apa yang mau kau katakan, kucing kecil? Aku tak mengerti bahasa kalian, ilmuku masih kurang”, kata Jaka. “A..aku”, kata-kata kucing jantan itu terhenti. Ia kaget mendapati dirinya bisa berbicara. Begitu pula Jaka dan kucing-kucing lainnya. Mereka semua terpana kaget, namun Jaka dengan tenang mempersilahkan kucing itu menjelaskan apa yang terjadi dalam bahasa manusia. Kucing jantan pun menceritakan apa yang terjadi mengenai Siti yang bersedih akan kematian ibunya. Jaka mengangguk pelan, mereka semua pun menuju desa untuk bertemu Siti yang berada di desa.
Kucing manis yang merupakan Siti itu tampak menangis di sudut rumah. Ia tak tahan melihat ayahnya juga menangis karena telah ditinggal dua perempuan yang disayanginya. Jaka dan kucing-kucing lainnya hanya bisa menatap dari kejauhan. Kucing jantan pun menghampiri Siti. Ia memberitahu kedatangan Jaka. Mendengar berita itu, Siti langsung mengeong kencang, ia sudah sangat membenci Jaka. Maka ia pun meminta kucing jantan untuk mengusir Jaka. Dengan langkah yang gontai, kucing jantai memberitahu Jaka soal kebencian Siti terhadapnya. Jaka hanya manggut-manggut, tak percaya atas apa yang telah ia lakukan. Jaka merasa sangat bersalah. Terlebih, jika mengingat kebaikan Siti menolongnya di waktu lampau.
“Kenapa tidak kembalikan Siti ke wujud semula?”, saran kucing jantan dengan memakai bahasa manusianya. “Tak bisa! Ilmuku belum sempurna, aku hanya belajar sedikit tentang ilmu ini. Aku pun sempat tak menyangka dulu bisa mengutuk Siti”, kata Jaka dengan raut menyesal. Jaka melangkah pelan, ia berencana untuk bertapa di hutan. Kucing jantan pun memilih mengikuti Jaka, meninggalkan Siti dan juga teman-temannya yang lain. “Terimakasih, kucing! Ngomong-ngomong, siapa namamu?”, tanya Jaka dalam perjalanan. “Nama? Teman-teman biasa memanggilku Franus”, jawab kucing jantan berbulu pirang itu. “Nama yang keren, Fran!”. Jaka terkekeh, mencoba menghibur dirinya sendiri yang agak terbebani atas rasa bersalahnya pada Siti. “Kira-kira, kenapa aku bisa bicara bahasa manusia ya? Sejak saat itu, sedangkan teman yang lain tidak”, gumam Franus. “Entahlah, saat itu aku hanya memegang kepalamu. Aku hanyalah seorang pengembara yang masih memiliki sedikit pengalaman. Bodohnya aku! Bisa merubah wujud seseorang namun tak bisa mengembalikannya lagi!”, Jaka mengeluh kesal. Pembicaraan mereka berhenti ketika memandang hutan yang lebat, mereka memasuki hutan itu dengan hati-hati. Hingga akhirnya mereka pun sampai di sebuah pohon besar dan bertapa disana. Meski Franus tak punya urusan, ia tetap setia menemani Jaka. Bertapa tanpa makan dan minum.
Setelah enam bulan mereka duduk bertapa, Jaka akhirnya mendapatkan ilham. Ia dan Franus pun melangkah keluar hutan dengan senyuman puas. Mereka mencari Siti di desa dan menemukannya sedang duduk termenung di taman bunga. Dengan cepat, Jaka menghampiri Siti dan berjongkok. Ia meminta maaf sebelumnya, “Siti! Maafkan aku, aku sungguh menyesal!”, kucing manis itu tetap terdiam. Ia sudah agak bisa memaafkan Jaka. Kemudian mulut Jaka mulai komat-kamit. Entah mengucapkan apa, lalu ia berdiri dan berkata dengan suara yang sangat manis dan tulus, “Siti! Kembalilah ke wujud aslimu, bahagiakan orangtuamu dengan kembali padanya!”. Secara ajaib, Siti berubah wujud kembali menjadi gadis desa yang jantik jelita. Mendapati kenyataan itu, Siti berpekik senang, “Terimakasih, Jaka! Aku tak akan melupakan budi baikmu!”, Siti mulai berpamitan pada teman-teman kucingnya termasuk Franus. “Meongg!”, Franus agak terkaget, ia tak bisa menggunakan bahasa manusianya lagi. Padahal ia cukup senang akan kemampuan itu. “Menikahlah segera, Siti! Aku tunggu kabar baiknya!”, pesan Jaka. Siti tersenyum manis dan langsung berlari. Ia sudah sangat rindu kepada ayahnya yang pasti kesepian. Siti sekarang pun sudah bisa melihat kenyataan akan kepergian ibunya ke surga. “Ja..Jaka!”, Franus terkaget lagi, kali ini ia bisa. “Ada apa, Fran!”, Jaka agak bingung. “Tak ada apa-apa”, kata Franus sambil mengambil nafas lega karena kemampuannya masih bisa digunakan.
Beberapa bulan setelahnya, Siti telah menikah. Walau begitu, ia tak melupakan teman-teman kucingnya. Namun, beberapa hari setelah hari pernikahan Siti diselenggarakan, Jaka memutuskan untuk meninggalkan desa melanjutkan pengembaraannya. “Terimakasih, kucing-kucing. Kalian sudah banyak membantuku. Maaf selama ini telah banyak merepotkan”, pamit Jaka. Kucing-kucing itu hanya mengeong terkecuali Franus, “A..aku ikut!”. Kucing-kucing lain tampak kaget. “Tapi....”, Jaka hanya menahan kata-katanya. “Kumohon, tak apa kan teman-teman?”, para kucing berdiskusi, tak mau kehilangan teman lagi. Namun jika memang itu sudah kemauan Franus, mereka tak bisa menahan. Kucin-kucing itu pun mengangguk pelan. “Ayolah! Aku sangat ingin mengembara! Aku berjanji tak akan merepotkanmu!”, “Baik, kawan! Kenapa tidak? Aku senang punya teman!”. Franus melonjak girang. Walau sedikit sedih, Jaka dan Franus pun meningalkan desa penuh kenangan itu.
“Bagaimana jika kau kupanggil tuan?”, kata Franus tiba-tiba tak lama setelah mereka meninggalkan pedesaan. “Kenapa tiba-tiba?”, “Ya, karena aku ingin menjadi kucing peliharaanmu. Mau kan? Lagipula, sepertinya aku hanya bisa bicara padamu”. Jaka termenung sejenak, “Haha, boleh juga. Itu terdengar keren, Fran!”. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Dalam pengembaraannya, mereka menemui banyak pengalaman-pengalaman yang menarik. Mereka juga terkenal sebagai sepasang pengembara yang suka menolong dan rendah hati, Jaka dan kucingnya. Kedua manusia dan kucing ini bersahabat dan selalu bersama. Mereka seperti sepasang jantung yang tak bisa dipisahkan antara bilik kiri dan bilik kanannya. Bahkan saat berkeluarga mereka tetap bersama. Kebersamaan mereka hanya dapat terpisahkan oleh ajal. Karena telah terikat suatu kontrak persahabatan antara kucing dan manusia sejak saat itu.
P.S: maaf kalau gak nyambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Korean Reality Show "The Devil's Plan 2"

SELADA (8.2 SMPN 9 Bekasi)

Cerpen;Kalung Ajaib